BERSELIMUT BADAI
Aku berdiri di tepian tebing berjurang di sebelah kananku
Banyak terlihat dedaunan yang mulai mengering menempel pada karang hanya tercium angin dan wangi basah yang titipan angin juga terkumpul dari segala penjuru
Ia mengakar kuat pada tebing, memeluknya erat dengan senyuman murahan menganguk-angguk
Kemudian ia nikmati dalam diamnya dan tak bergerak dari zona nyaman, yang menggerogoti secara perlahan dalam kesakitan
Banyak terlihat dedaunan yang mulai mengering menempel pada karang hanya tercium angin dan wangi basah yang titipan angin juga terkumpul dari segala penjuru
Ia mengakar kuat pada tebing, memeluknya erat dengan senyuman murahan menganguk-angguk
Kemudian ia nikmati dalam diamnya dan tak bergerak dari zona nyaman, yang menggerogoti secara perlahan dalam kesakitan
Aku membuat sebuah dataran yang belum sempurna, mari kita buat sempurna agar kita bisa menari bersama, hingga bisa "ngabalakatak babareungan", kita di tebing yang menunggu badai
Berusaha bukan kita yang mencipta badai, biar badai yang akan menemukan kita, biar kita kuat bersama walau harus hidup berselimut badai
"Kita ini INSAN bukan seekor SAPI" (fortwenty)
Bergeraklah dari zona ini
Biar semua tau bahwa hidup kita akan berarti
Cuma saja kamu tidak yakin bisa bersama dalam satu hati, belum berani merangkul jiwamu sendiri dalam jiwa-jiwa yang kita pun tak tahu ada yang sejiwa
Ini bukan seleksi alam, ini hukum rimba dimana yang terkuat menjadi raja
Ingat kita ini Insan Bukan Seekor Sapi
Lakukanlah seperti insan.
Itu saja!.
Berusaha bukan kita yang mencipta badai, biar badai yang akan menemukan kita, biar kita kuat bersama walau harus hidup berselimut badai
"Kita ini INSAN bukan seekor SAPI" (fortwenty)
Bergeraklah dari zona ini
Biar semua tau bahwa hidup kita akan berarti
Cuma saja kamu tidak yakin bisa bersama dalam satu hati, belum berani merangkul jiwamu sendiri dalam jiwa-jiwa yang kita pun tak tahu ada yang sejiwa
Ini bukan seleksi alam, ini hukum rimba dimana yang terkuat menjadi raja
Ingat kita ini Insan Bukan Seekor Sapi
Lakukanlah seperti insan.
Itu saja!.
Aku berdiri di tepian tebing menjulang di sebelah kiriku, membenturkan ketidak tahuanku dalam tawa-tawa yang mencemooh,
Hihihi, aku tertawa kecil polos dan lugu, aku baru tahu tebing tetaplah tebing yang tak rela di injak dan di jamah oleh kaki-kaki kecil penuh semangat dan harapan mendaki kepuncak..
Awaaaaaasss ada badai datang lagi, dengan tawa-tawa lain yang lebih mencekik
Kita harus berangkulan bertahan dari badai, tak bisa berlindung pada tebing menjulang, ia akan meruntuhkan mu
Kita harus survive mencipta daratan tempat kita berpijak
Hihihi, jangan cengeng, air mata hanya untuk para pecundang yang memegang erat julang tebing atau tebing jurang
Kau tinggal merangkul jiwa-jiwa yang sejiwa dengan mu walau harus berselimut badai.
Hihihi, aku tertawa kecil polos dan lugu, aku baru tahu tebing tetaplah tebing yang tak rela di injak dan di jamah oleh kaki-kaki kecil penuh semangat dan harapan mendaki kepuncak..
Awaaaaaasss ada badai datang lagi, dengan tawa-tawa lain yang lebih mencekik
Kita harus berangkulan bertahan dari badai, tak bisa berlindung pada tebing menjulang, ia akan meruntuhkan mu
Kita harus survive mencipta daratan tempat kita berpijak
Hihihi, jangan cengeng, air mata hanya untuk para pecundang yang memegang erat julang tebing atau tebing jurang
Kau tinggal merangkul jiwa-jiwa yang sejiwa dengan mu walau harus berselimut badai.
Jika kita berselimut badai,
Apa yang akan kau kakukan?
Apa yang akan kau kakukan?
Sampun
Sebuah tempat di pancawati yang sejiwa denganku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar