NYANYIAN RUMPUT YANG BERGOYANG
ini yang biasa tawa kecilku tersaji dalam bibir lebarku yang kukulum manis, ganteng dan menggetarkan.
Dan kali inipun saat duduk di beranda di kursi tua pak Jendral yang sebenarnya cukup usang, tapi aneh terasa nyaman dan betah aku duduki berlama-lama, seraya menatap kedepan, rerumputan yang molek mencuri pandang sekilas yang senyumnya kadang menggoda, apalagi saat angin berbisik di telinganya, ia berbenturan mendesah menyapu, seolah mengajakku berbicara dalam tatapan kosongku lurus menatap di balik nya.
Ia bergerak lagi, dan kali ini ia bernyanyi dalam dawai yang tak pernah ku dengar sebelum nya
Begitu menenangkan.
Jiwa
Aku coba bertanya,
Siapa yang menanam mu kawan?
Ia hanya menatap batang,
Hhhmmmmm...
Aku tertegun sejenak dan ku lihat batang seperti tahu aku akan bertanya pada nya
Tiba-tiba batang menujuk kebawah agar akar menjawab pertanyaanku
Agak kaget ketika akar menatapku tajam, tatapan mengintimidasi dalam menusuk ulu hatiku, merinding sekali ketika ia sebenarnya sembari memeluk tanah basah bahwa sebenarnya ia bergantung pada tanah, dan memaksa tanah menjawab pertanyaanku.
Aku kebingungan ketika tanah berbisik pada HARA yang sedang bermain air
Aku hanya bisa bersujud di atas tanah saat air me jelaskan semua nya bahwa Tuhan yang telah membuat skenario ini sehingga kami bisa belajar atasnya.
MasyaAllah, begitu tafakur nya semua makhluk mu ya Allah..
Andai angin, rumput, batang, akar, tanah, hara dan air saling menyombongkan diri, mungkin saat ini tak kan terdengan nyanyian rumput yang bergoyang.
Siapa yang menanam mu kawan?
Ia hanya menatap batang,
Hhhmmmmm...
Aku tertegun sejenak dan ku lihat batang seperti tahu aku akan bertanya pada nya
Tiba-tiba batang menujuk kebawah agar akar menjawab pertanyaanku
Agak kaget ketika akar menatapku tajam, tatapan mengintimidasi dalam menusuk ulu hatiku, merinding sekali ketika ia sebenarnya sembari memeluk tanah basah bahwa sebenarnya ia bergantung pada tanah, dan memaksa tanah menjawab pertanyaanku.
Aku kebingungan ketika tanah berbisik pada HARA yang sedang bermain air
Aku hanya bisa bersujud di atas tanah saat air me jelaskan semua nya bahwa Tuhan yang telah membuat skenario ini sehingga kami bisa belajar atasnya.
MasyaAllah, begitu tafakur nya semua makhluk mu ya Allah..
Andai angin, rumput, batang, akar, tanah, hara dan air saling menyombongkan diri, mungkin saat ini tak kan terdengan nyanyian rumput yang bergoyang.
Hahaha..
Tertawaku kini lebar, bibir ku sudah tidak manis lagi, yang terlihat hanya bentuk gigi tak rata dan besar saja..
Ini bahaya, ganteng ku bisa turun 25 persen ini dalam kemarahan menertawakan ego dan ambisiku
Sombong!
Hahaha.. aku malu saat titipan angin mencium lembut ke nuraniku
Kau yang jauh dan menyebalkan dan ku rindukan..
Tertawaku kini lebar, bibir ku sudah tidak manis lagi, yang terlihat hanya bentuk gigi tak rata dan besar saja..
Ini bahaya, ganteng ku bisa turun 25 persen ini dalam kemarahan menertawakan ego dan ambisiku
Sombong!
Hahaha.. aku malu saat titipan angin mencium lembut ke nuraniku
Kau yang jauh dan menyebalkan dan ku rindukan..
Hihihi..
Aku kembali terduduk di kursi usang dan tua pak Jendral, kali ini kopi tersaji pemberian sahabat, sembari mulupakan apa yang telah dilakukan biar Tuhan yang berkata dan bumi bersaksi saja.
Dan lakukan lagi terus dan menerus bergerak.
Diam dan mati hanya milik orang yang tak bisa berdiri di kakinya sendiri, resapi jangan keliru..
Aku kembali terduduk di kursi usang dan tua pak Jendral, kali ini kopi tersaji pemberian sahabat, sembari mulupakan apa yang telah dilakukan biar Tuhan yang berkata dan bumi bersaksi saja.
Dan lakukan lagi terus dan menerus bergerak.
Diam dan mati hanya milik orang yang tak bisa berdiri di kakinya sendiri, resapi jangan keliru..
Dan..
Sore tadi aku begitu menikmati nyanyian rumput yang bergoyang..
Sore tadi aku begitu menikmati nyanyian rumput yang bergoyang..
Sampun
Dari Fujairah titipan angin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar